Showing posts with label Kajian. Show all posts
Showing posts with label Kajian. Show all posts

Thursday, July 10, 2014

Istiqamah dalam Keimanan

Istiqamah dalam Keimanan
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Nabi Saw menyatakan dalam sebuah haditsnya, apa yang harus dilakukan umat manusia di dunia ini, dalam menjalani kehidupannya agar selamat dunia dan akhirat, sederhana saja: Qul, amantu billahi tsumma itstaqim!, beriman kepada Allah kemudian pegang teguh (istiqamah) keimanan itu.

Hadits tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Q.S. Fushilat:30 yang artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang berkata 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka tetap lurus (istiqamah) dalam keimanannya, niscaya turun kepada mereka malaikat menyampaikan pesan kepada mereka bahwa janganlah kalian takut dan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian!".

Beriman kepada Allah SWT artinya meyakini Allah sebagai Tuhan semesta alam, juga yakin akan kebenaran keberadaan para malaikat-Nya, wahyu-Nya (kitab-kitab Allah), para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir Allah SWT bagi setiap manusia. Dan pembenaran atas semua itu harus diikuti dengan tindakan nyata, sebagai pengamalan atas keimanan tersebut.

Pengamalan keimana kepada Allah harus diikuti dengan pembenaran atas firman-firman-Nya, yang kini tertuang dalam al-Quran, sekaligus mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Minimal, seorang mukmin harus membuktikan keimanannya dengan mengerjakan shalat lima waktu. Karena, dalam sebuah hadits disebutkan, pembeda antara seorang mukmin/Muslim dan kafir adalah shalat. Dari shalat, jika dikerjakan dengan khyusu, maka akan tercipta kondisi diri yang benar-benar tunduk kepada Allah SWT.

Keimanan kepada para malaikat minimal dibuktikan dengan adanya kesadaran, bahwa di kiri-kanan kita selalu ada malaikat pencatat amal Rakib dan Atid. Kedua malaikat itu selalu mengawasi perilaku kita dan mencatatnya, untuk kemudian oleh Allah SWT dimintakan pertanggungjawaban kita di akhirat kelak. Dengan adanya kesadaran tersebut, maka perilaku kita akan terkendali. Hanya akan mengarah kepada hal-hal yang diwajibkan dan dibolehkan oleh ajaran Allah semata (syariat Islam).

Keimanan kepada kitabullah, minimal dengan melakukan pembenaran kepada al-Quran, yang diikuti dengan pembacaan, penghayatan, dan pengamalan kandungan isinya. Menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup, mutlak wajib hukumnya bagi setiap mukmin. Al-Quranlah yang merupakan hudan (petunjuk) bagi orang-orang yang bertakwa (Q.S. al-Baqarah:2).

Keimanan kepada para rasul Allah, minimal dibuktikan dengan membenarkan kenabian dan kerasulan Muhammad Saw, yang diikuti dengan menjalankan apa yang didakwahkannya. Perilaku Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun persetujuannya, merupakan sunnah, sebagai teladan bagi kaum mukmin.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Kemudian kimanan kepada hari akhir adalah yakin bahwa setelah kehidupan dunia ini ada alam kehidupan yang kekal, yakni akhirat. Bahwa semua makhluk akan mati atau binasa, kemudian manusia dibangkitkan kembali untuk menjalani "kehidupan kedua". Di alam akhirat itulah manusia menjalani kehidupan sesungguhnya. Bahagia atau celakanya, ditentukan oleh amal perbuatannya selama di dunia ini. Pada alam akhirat itulah pembalasan atas amal manusia dilakukan Allah. Firman-Nya dalam Q.S. al-Zalzalah:6-8, artinya, "Pada hari itu manusia akan pergi berpecah-pecah untuk diperlihatkan kepada mereka akan kerja-kerja mereka. Barangsiapa yang beramal kebaikan seberat timbangan atom, maka akan dilihatnya. Dan barangsiapa yang beramal kejahatan seberat timbangan atom, maka akan dilihatnya pula".

Adapun keyakinan akan adanya akhirat harus dibuktikan dengan pengumpulan bekal kita untuk kehidupan di sana. Yakni, berupa amal saleh. Beribadah kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama makhluk, sebagaimana diperintahkan-Nya. Hidup di dunia ini hanya sementara. Pergunakan sebaik-baiknya, jangan sampai terlena oleh kenikmatan duniawi yang melenakan, sehingga melupakan kita akan persiapan (amal saleh) untuk akhirat.

Sedangkan beriman kepada takdir, yakni membenarkan adanya ketentuan Allah SWT. Yaitu, ketentuan yang menentukan nasib atau keadaan kehidupan kita. Yang mana nasib atau keadaan itu mengiringi amal yang kita kerjakan. Ibaratnya, orang rajin belajar tentu akan pandai dan lulus ujian. Orang rajin bekerja tentu akan mendapatkan kekayaan. Orang beribadah tentu mendapat pahala. Sebaliknya, jika kita lalai beribadah, banyak berbuat dosa, tentu ketentuan Allah berupa adzab akan menimpa kita.

Demikian pula jika kita menjalani kehidupan ini sesuai syariat Islam, tentu kebahagiaan hidup dunia-akhirat akan mengiringi kita. Jika kita rajin menjaga kondisi tubuh, dengan olahraga misalnya, kesehatan tentu akan menimpa jasmani kita. Dan seterusnya.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Uraian di atas hakikatnya adalah sikap istiqamah dalam beriman kepada Allah. Istiqamah adalah kukuh, kuat kepada keyakinan yang ada. Tetap teguh menjalankan konsekuensi keimanan sebagaimana terurai di atas.

Dalam terminologi iman sendiri terkandung makna istiqamah. Iman adalah mengucapkan dengan lisan (ikrarun bil lisan), diiringi dengan pembenaran dalam hati (tashdiqun bil qalbi) dan dibuktikan dengan tindakan nyata oleh seluruh anggota tubuh ('amalun bil arkan).

Orang yang istiqamah dalam keimanannya, akan dapat mengalahkan setiap godaan untuk berbuat maksiat, syirik, nifak, atau mengabaikan syariat Islam. Hawa nafsu duniawi dan bujuk-rayu setan, akan selalu mengintai kaum mukmin agar mereka berpaling dari ajaran Allah yang diimaninya.

Orang yang tidak istiqamah ialah mereka yang mudah goyah keimanannya. Hawa nafsu duniawi, mengejar kesenangan duniawi, menjadi pilihannya dengan mengabaikan keimanannya. Ini bukan berarti mengejar kesenangan duniawi dilarang, tetapi seyogianya orang beriman yang teguh dengan keimanannya akan mengejar kesenangan duniawi itu dengan tetap berpedoman kepada aturan Allah, berstandar halal-haram, manfaat-madarat, dan lain-lain.

Semoga kita termasuk orang yang mampu beristiqamah dalam keimanan kita. Semoga pula kita mempunyai pemimpin yang istiqamah, baik dalam keimanannya maupun pada janji-janji manisnya ketika mereka menarik simpati rakyat agar mendukung mereka. Amin. Barakallahu li walakum. (ASM. Romli).n

Memilih Pemimpin

  Memilih Pemimpin
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Telah menjadi keyakinan kita, selaku umat Islam, bahwa agama ini (Islam) merupakan pedoman hidup yang harus dipatuhi. Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Jika kita mengikutinya, maka kebahagiaan dunia-akhirat akan diraih. Sedangkan jika kita mengabaikan aturan-aturan Islam, maka kecelakaan dan kesengsaraan akan menimpa kita, di dunia dan akhirat.

Menghadapi persoalan besar negara kita sekarang ini, yakni ihwal kepemimpinan nasional, kita selaku umat Islam pun harus menjadikan syariat Islam sebagai pedoman dalam memilih pimpinan, dalam hal ini berupa memilih wakil rakyat di lembaga legislatif. Tentu saja, caranya dengan mengikuti Pemilu dan memberikan suara kepada kontestan (partai politik) yang aspiratif terhadap umat Islam, termasuk ihwal pimpinan eksekutif tertinggi (presiden).

Islam menggariskan, syarat utama pimpinan yang harus dipilih umat Islam adalah seorang Muslim. Allah SWT menegaskan, "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan taatilah pula 'ulil amri' di antara kamu..." (Q.S. an-Nisa:59).

Kata "di antara kamu" (minkum) jelas menunjukkan "ulil amri" (pemegang kekuasaan, penguasa, atau pemimpin) haruslah "orang kita", yakni sesama Muslim. Hal tersebut dipertegas oleh Q.S. Ali Imran:28, "Orang-orang beriman tidak mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin..." dan Q.S. Ali Imran:118, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memilih 'bithanah' (pemimpin, teman dekat) dari selain kalian. Mereka tidak akan melalaikan kesempatan untuk mencelakakan kalian. Mereka suka kalian menderita...".

Alasan utama umat Islam harus memilih seorang Muslim sebagai pemimpin, antara lain karena sang pemimpin bertugas membimbing umat mengamalkan syariat Allah dan menegakkan syiar Islam di bumi ini. Bagaimana mungkin seorang non-Muslim mampu melakukannya?

Persyaratan Muslim di sini tentu saja yang benar-benar kaffah kemuslimannya, tidak parsial apalagi "Muslim sekuler", sehingga ia tidak akan membiarkan munkarat atau kemaksiatan merajalela di negeri ini, baik berupa "KKN" maupun perjudian, prostitusi, dan sebagainya. Ia akan pimpin umat Islam menuju kehidupan yang penuh berkah dan maghfirah Allah, dengan mempedomani syariat Islam dalam sistem pemerintahannya.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Syarat penting lainnya, seorang pemimpin yang harus kita pilih mestilah seorang laki-laki. Seperti telah disepakati Kongres Umat Islam Indonesia tahun lalu, pemimpin --dalam hal ini presiden-- harus seorang Muslim laki-laki, bukan wanita. Karena itu, dalam pemilu nanti tentunya umat Islam hendaknya memilih kekuatan-kekuatan politik yang akan memilih seorang Muslim laki-laki menjadi presiden.

Kaum salaf umat Islam, sebagaimana dikemukakan Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya Fiqhul Mas'uliyyah fil-Islami (Fiqih Responsibilitas dalam Islam, GIP, 1998:180), telah bersepakat bahwa perempuan tidak boleh memangku jabatan kepemimpinan kaum Muslimin. Karena, pemimpin umum mempunyai tugas dan kewajiban yang tidak dapat dilakukan oleh seorang perempuan, seperti memimpin shalat dan sejenisnya.

Seorang pemimpin dalam pandangan Islam mestilah pula seorang yang adil atau berkeadilan. Yang mampu menunaikan seluruh tugasnya mengayomi seluruh rakyat, tanpa perbedaan perlakuan, seraya menjauhi dosa-dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil. Juga bersifat amanah (terpercaya) dan jujur.

Keadilan ('adalah) menurut Ali bin Abi Thalib adalah inshaf kejujuran. Ibnu Athiyah menafsirkan keadilan sebagai "seluruh akidah dan syariat yang diwajibkan dalam menunaikan amanat, meninggalkan kezhaliman, jujur, dan memberikan hak". Sedangkan Ibnul 'Arabi mengatakan, keadilan antara hamba dan Rabbnya adalah mendahulukan hak Allah atas kepentingan dirinya. Mementingkan ridha Allah dari dorongan nafsunya.

Dengan demikian, pemimpin umat Islam mestilah seorang yang saleh, taat menjalankan semua perintah Allah dan Rasul-Nya, sehingga ia menjadi teladan bagi seluruh umat Islam yang dipimpinnya.

Syarat lain seorang pemimpin adalah berkemampuan (memimpin). Ia harus mampu mewujudkan kemaslahatan umat serta mengatur urusan mereka. Ia harus mampu mengemban amanat rakyat (umat Islam). "Jika amanat telah disia-siakan, maka tunggulah masa kehancuran," demikian sabda Nabi Saw. Ketika para sahabat bertanya tentang bentuk penyia-nyiaan amanat itu, beliau menjawab, "Jika suatu tugas diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya".

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan, umat Islam diharuskan memilih pemimpin yang tidak menginginkan jabatan. Dengan kata lain, umat harus memilih pemimpin yang tidak ambisius, atau jangan memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan tersebut. Karena meminta jabatan dengan alasan merasa diri sendiri mampu, dilarang oleh Islam. "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa" (Q.S. an-Najm:32).

Lebih tegas disabdakan Nabi Saw yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abdurrahman bin Sumrah,

"Wahai Abdurrahman bin Samrah, janganlah engkau minta kepemimpinan itu, karena jika engkau diberikan karena memintanya, niscaya akan dibebankan dengan tugas kepemimpinan itu, sedangkan jika engkau diberikan bukan karena meminta, maka engkau akan diperbantukan bagi kepemimpinan itu..."

Demikianlah sebagian pedoman Islam bagi umatnya dalam memilih pemimpin.

Semoga kita dan umat Islam seluruhnya, mampu membuka mata, telinga, dan hati, untuk memilih pemimpin-pemimpin yang mampu menjaga harkat-martabat Islam dan umatnya (izzul Islam wal Muslimin), serta mampu menata kehidupan bangsa dan negara ini menuju baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang aman sejahtera, penuh limpahan rahmat Allah SWT. Amin. Barakallahu li walakum. (ASM. Romli).n

Zaman "Hudnah"

Zaman "Hudnah"
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Negeri kita kini dilanda krisis berlarut-larut di berbagai bidang. Isu, rumor, dan kerusuhan muncul di mana-mana. Masyarakat resah-gelisah, bahkan mudah diprovokasi untuk melakukan kerusuhan dan tindak kejahatan. Istilah-istilah "aktor intelektual", "konflik antarelit", dan "provokator" begitu populer akhir-akhir ini.

Apa yang sebenarnya terjadi dan kapan keadaan menyusahkan ini berakhir, adalah pertanyaan pokok yang muncul di kalangan rakyat awam. Para ulama, da'i, atau tokoh-tokoh agama telah mengemukakan pandangannya. Antara lain, krisis yang melanda bangsa Indonesia saat ini adalah ujian, musibah, bahkan adzab dari Allah SWT. Agar bangsa ini, khususnya umat Islam sebagai penduduk mayoritas, bertobat dan memperbaiki diri. Meluruskan niat dan tekad untuk berjalan di garis yang telah ditetapkan Allah SWT.

Sementara para pengamat, analis, dan politisi tak henti-hentinya melontarkan pandangan, bahwa semua kekacauan ini merupakan akibat kebijakan rezim Orde Baru yang otoriter. Yang menjalankan pemerintahan dengan penuh perilaku Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme.

Seorang da'i kondang kabarnya menangis, melihat begitu mudahnya masyarakat melakukan kejahatan seperti penjarahan, dan sering terjadinya kerusuhan. Ia bertanya pada dirinya, "Apa hasil dakwahmu selama ini?"

Rupanya, dakwah Islamiyah selama ini belum berhasil --jika tidak dikatakan galal sama sekali. Kegagalan dakwah, yang berarti belum Islaminya pemikiran dan perilaku umat, bukan saja terjadi di kalangan masyarakat bawah, yang belakangan mudah terprovokasi, termakan isu, dan terlibat kerusuhan dan penjarahan, termasuk "tawuran antardesa/antarkampung". Kegagalan dakwah juga dapat dilihat di tingkat "atas", di kalangan kaum politisi atau tingkat elit, yang terkesan hanya mementingkan kepentingan diri dan kelompoknya. Setiap komentar mereka, yang dikutip pers, hampir seluruhnya bermuatan kepentingan politis, demi popularitas dan citra baik diri dan kelompoknya, plus berisi hujatan atau makian kepada pihak lain sebagai lawan politiknya.

Lebih parah lagi, munculnya "Islam politik", yang tersimbolkan oleh munculnya partai-partai politik berasas Islam yang didukung kaum ulama, dinilai negatif, "sektarian", dan "politisasi agama". Agama (Islam) seolah "diharamkan" mewarnai kehidupan dan praktik perpolitikan. Padahal, Islam adalah agama universal. Ajarannya mencakup semua bidang kehidupan, karena ia sesuai dengan fitrah manusia, memenuhi kebutuhan manusia akan pedoman hidup di segala sektor.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Rupanya, sekularisme yang memisahkan urusan agama dan negara, membedakan masalah pribadi --dalam hal hubungan dengan Tuhan (agama)-- dengan kemasyarakatan dan kenegaraan, telah merasuki jiwa sebagian besar umat Islam di negeri ini. Akibatnya, mereka enggan mengembalikan segala masalah kepada ajaran Allah, yang bersumberkan al-Quran sebagai wahyu-Nya. Mereka enggan mengatakan bahwa Islam solusi terbaik bagi setiap masalah. Mereka enggan mengakui --apalagi mengamalkan-- sistem politik dan ekonomi yang diajarkan Islam.

Umat Islam Indonesia, boleh jadi sebagian besar belum kaffah keislamannya. Mereka mengaku Muslim, tapi hanya mengamalkan sebagian kecil ajaran Islam. Mereka syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji, namun sebatas "melakukan" semua itu, belum memahami dan mempraktikkan hakikat yang terkandung dalam Arkanul Islam tersebut. Mereka hanya "melakukan" shalat, sehingga setelah shalat mereka mengabaikan apa yang diucapkan dan dilakukannya sewaktu shalat: mengakui Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai utusan-Nya, mengakui "berserah diri kepada aturan-Nya", mengakui hanya kepada-Nya mengabdi dan meminta pertolongan.

Mereka mengakui Allah SWT sebagai Tuhan, Pencipta, dan Penguasa semesta alam. Namun enggan mengakui-Nya sebagai pemegang kedaulatan. Mereka lebih suka mengatakan kedaulatan berada di tangan rakyat. Mereka lebih menyukai konsep demokrasi ciptaan manusia, ketimbang kedaulatan hukum Allah. Akibatnya, permasalahan yang ada sulit dicarikan pemecahannya. Mereka berbantah-bantahan dan bertahan dengan pendapatnya masing-masing. Mengklaim sebagai paling benar.

Kalangan politisi, pengamat, dan kaum elit bertarung dan berkonflik dengan sengitnya. Saling menghujat dan menjegal langkah lawan. Masyarakat kehilangan kepercayaan. Kehilangan figur yang dapat dipercaya dan dijadikan teladan. Sementara perut mereka menunggu makanan. Mereka marah, namun tak berdaya. Maka, mudahlah mereka dihasut dan diprovokasi. Maraklah kerusuhan!

Mana dan siapa yang benar? Demikian kira-kira yang ada dalam benak rakyat Indonesia saat ini. Patut kiranya kita merenungkan sebuah wasiat Nabi Muhammad Saw, yang dikutip Ibnu 'Arabi dalam kitabnya Al-Washaya li Ibn al-'Arabi (Wasiat-Wasiat Ibnu Arabi, Pustaka Hidayah, 1996:324) berikut ini.

Rasulullah Saw bersabda, "Tiada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi seorang berilmu ('alim) yang berbicara atau pendengar yang memperhatikan. Wahai manusia, kalian berada pada zaman hudnah, dan perjalananmu cepat..." Miqdad bertanya, "Wahai Rasulullah, apa hudnah itu?" Nabi Saw menjawab, "Negeri bencana dan yang terputus. Jika menjadi samar bagi kalian urusan-urusan seperti penggalan malam yang gelap, maka hendaklah kalian (kembali) kepada al-Quran. Sebab, al-Quran adalah pemberi syafaat yang diterima syafaatnya dan saksi yang dipercaya. Barangsiapa menjadikannya sebagai pemimpin, maka ia akan menuntunnya ke surga. Dan barangsiapa menaruhnya di belakang, maka ia menghalaunya ke neraka. Ia (al-Quran) adalah petunjuk yang paling jelas kepada jalan terbaik. Barangsiapa berbicara dengannya, maka ia dipercaya; barangsiapa mengamalkannya, maka ia diberi pahala; dan barangsiapa yang menghukumi dengannya, maka ia berlaku adil..."

Apalah negeri kita kini berada pada zaman hudnah? Wallahu a'lam, namun tampaknya demikian. Karenanya, umat Islam wajib segera kembali ke al-Quran, sumber kebenaran hakiki dan sumber tegaknya keadilan. Jika bukan al-Quran yang dijadikan rujukan dan pedoman kehidupan, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara, jangan harap bangsa/negara ini memperoleh kebenaran dan keadilan hakiki, yang penuh limpahan rahmat Allah SWT. Terlebih jika kita telah mengaku sebagai Muslim, yang berarti mengakui al-Quran sebagai wahyu dan bimbingan-Nya bagi kehidupan kita. Barakallahu li walakum. (ASM. Romli).n

Makanan Halal Melembutkan Hati

Makanan Halal Melembutkan Hati
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya seseorang. "Apa yang bisa melembutkan hati, Wahai Abu Abdillah?" Sejenak Imam Hambal merenung, lalu menjawab, "Makanan halal".

Dialog singkat di atas bermakna luas dan dalam. Intinya menyoal makanan halal yang dapat melembutkan hati. Hati yang lembut akan memudahkan penerimaannya atas kebenaran Ilahi. Sebaliknya, makanan haram akan mengeraskan hati. Hati yang keras akan sangat sulit menerima kebenaran Ilahi dan sebaliknya justru mudah menerima kemaksiatan dan kemunkaran.

Allah SWT sendiri menyajikan segala macam makanan di bumi ini untuk manusia. Dia menentukan pula jenisnya, yakni makanan yang halal dimakan dan makanan haram. Makanan haram adalah makanan yang secara dzati diharamkan, seperti daging babi, darah, binatang tercekik, binatang sembelihan tanpa disebutkan asma Allah. Termasuk makanan haram yaitu makanan yang diperoleh secara tidah sah menuruh Islam, yakni makanan yang diperoleh dengan cara mencuri, korupsi, menipu, dan sebagainya.

Umat Islam jelas diperintahkan oleh Allah SWT agar memakan makanan halal saja, yakni makanan selain yang diharamkan dan yang diperoleh secara sah menurut Islam.

"Wahai sekalian manusia, makanlah makanan yang halal lagi baik dari yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena setan itu sesungguhnya adalah musuh nyata bagimu" (Q.S. 2:168).

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Berkaitan dengan makanan haram, tentu kita ingat sebuah kisah dalam hadits. Yaitu ketika seorang pengembara berjalan tertatih-tatih. Kelelahan tampak pada raut mukanya dan rambutnya yang tak teratur dan penuh debu. Menandakan ia telah menempuh perjalanan jauh. Merasa tanpa daya lagi, ia pun menengadahkan tangannya ke langit, berdoa memohon pertolongan Allah SWT. Terucap dari mulutnya: "Ya Rabbi, Ya Rabbi!" Namun, doanya tidak dikabulkan karena makanan yang ia makan, minuman yang ia teguk, dan pakaian yang ia kenakan haram.

Jadi, makanan haram bukan saja mengeraskan hati, tetapi juga membuat seseorang terhalang kemakbulan doanya kepada Allah SWT. Meski dalam sebuah firman-Nya, Allah menyatakan akan mengabulkan setiap doa hamba-hamba-Nya. Sebaliknya, makanan halal akan melembutkan hati sekaligus menjadikan doa kita makbul, dipenuhi oleh-Nya.

Maka dari itu, Islam menggariskan, umatnya harus selalu mengkonsumsi barang halalan thayiba (halal lagi baik atau bergizi). Dan yang harus mendapat perhatian serius, adalah "cara" mendapatkan barang halal tersebut. Karena, barang haram --seperti daging babi-- umumnya umat Islam menghindarinya. Namun tentang "cara", banyak umat yang mungkin tidak mempedulikan halal-haramnya. Padahal, barang halal pun jika didapat dengan cara haram, seperti pencurian, penipuan, korupsi, suap, dan sebagainya, maka barang itu pun haram dikonsumsi.

Karena itulah, di akhirat nanti, ihwal menyangkut harta kekayaan akan dimintai pertanggungjawabannya dari berbagai arah: dari mana didapatkan, bagaimana mendapatkannya, dan digunakan untuk apa? Jika harta didapat dari sumber halal, cara halal, namun penggunaannya melanggar aturan Allah, atau digunakan di jalan selain-Nya, maka keharaman jatuh atas penggunaan. Jika sumber halal, penggunaan halal, namun cara mendapatkannya tidak halal, maka haram jatuh atas cara mendapatkan harta tersebut. Begitu seterusnya.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Demikianlah, kehati-hatian kita dalam mendapatkan harta atau makanan, diperlukan mutlak. Agar darah-daging kita terhindar dari barang haram. Kehalalan sumber, cara, dan penggunaan harus selalu dijaga, agar rezeki yang kita dapatkan mengandung berkah dan menyelamatkan kita dunia-akhirat.

Kehati-hatian itu dalam istilah agama kita dinamakan wara'. Wara' adalah sikap berhati-hati terhadap suatu perkara yang syubhat, utamanya dalam hal mencari dan mempergunakan rezeki karena takut terjerumus ke dalam keharaman. Seorang Muslim yang memiliki sifat wara', akan menjauhkan diri dari masalah-masalah yang syubhat, apalagi yang sudah jelas-jelas keharamannya (pasti akan dijauhinya).

Sikap wara' menentukan "nasib" amal kebajikan kita. Akan berkurang nilainya, bahkan sia-sia, amal saleh kita jika tidak dibarengi sikap wara'. Nabi Saw menegaskan, "Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat di Baitul Maqdis yang terus-menerus menyeru setiap malam, 'Barangsiapa memakan yang haram, maka tidak akan diterima ibadah sunatnya dan fardhunya'." Barakallahu li walakum. (ASM. Romli).n