Thursday, July 10, 2014

Pertarungan Hak dan Batil

  Pertarungan Hak dan Batil
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Islam telah menggariskan, kehidupan dunia ini merupakan cobaan (fitnah) bagi umat manusia. Dalam al-Quran disebutkan, kehidupan dunia ini adalah untuk menguji manusia siapa di antara mereka yang paling baik amalnya (Q.S. al-Kahfi:7).

Karena merupakan cobaan, maka di dunia ini terus-menerus terjadi pertarungan antara hak (al-haq, kebenaran) dan batil (al-bathil). Mereka yang mengikuti dan memperjuangkan kebenaran disebut ahlul haq, berhadapan dengan mereka yang mengusung dan membela kebatilan, ahlul bathil.

Pertarungan antara hak dan batil, yang merupakan sunnatullah, akan terus berlangsung hingga kehidupan dunia ini berakhir. Orang yang mengikuti al-haq, menjauhi al-bathil, akan menang. Bahagia hidupnya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, orang yang mengikuti al-bathil hidupnya akan merugi, sengsara dunia dan akhirat. Kalaupun pengikut al-bathil di dunia hidupnya merasa senang, dengan berlimpah harta misalnya, itu adalah upaya Allah kian menyengsarakannya di akhirat kelak, sebagai imbalan ketidakmauannya bertobat dan mengikuti al-haq.

Jadi, adanya pertarungan al-haq dan al-bathil membuat manusia pun terbagi menjadi dua golongan, yakni ahlul haq dan ahlul bathil.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Al-haq adalah kebenaran yang datang dari Yang Mahabenar, yakni Allah SWT. Dia adalah ajaran Allah SWT yang kini terhimpun dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw (syariat Islam). "Mengamalkan al-haq ini cukup berat," kata seorang pakar tafsir, Fakhruddin ar-Razy. "Terbukti dari perintah untuk saling mengingatkan secara berkesinambungan menyangkut hal tersebut," tambahnya, merujuk pada Q.S. al-'Ashr:3, yang menegaskan orang yang tidak akan merugi hidupnya di dunia antara lain mereka yang saling mengingatkan dalam kebenaran (tawa shaubil haq).

Ahlul haq adalah para nabi dan utusan Allah, yang membawa ajaran-Nya untuk diajarkan kepada dan diamalkan oleh umat manusia. Tergolong ahlul haq adalah umat Islam yang istiqamah dengan keislamannya, mengamalkan seluruh ajaran Islam dan menjauhi seluruh larangan Allah.

Ahlul haq adalah juga para ulama sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya), atau para da'i, mubaligh, yang terus-menerus mengibarkan panji Islam, berupaya menegakkan syi'ar Islam, agar umat manusia beriman-Islam, berlaku adil, beramal saleh, dan sebagainya. Ahlul haq juga adalah para politisi yang mengusung nilai-nilai Islam dalam percaturan politik; para ekonom yang memperjuangkan penerapan sistem perekonomian Islami; budayawan yang menegakkan budaya Islami; dan seterusnya.

Adapun al-bathil atau kebatilan adalah paham, ajaran, atau perilaku yang bertentangan dengan atau melanggar syariat Islam. Ahlul bathil adalah mereka yang mengamalkan dan memperjuangkan nilai-nilai, paham, atau ajaran non-Islam, ajaran yang sama sekali tidak diakui sebagai kebenaran oleh Islam.

Ahlul bathil adalah para penentang nabi dan utusan Allah. Mereka menentang ajaran yang didakwahkan Rasulullah. Mereka memusuhi dan berupaya membendung tersebar dan tegaknya ajaran Allah, dengan segala pengorbanan tenaga, pikiran, dan dana. Mereka adalah kaum musyrikin, kafirin, Yahudi, Nashrani, yang bergabung dengan kaum munafikin yang mengaku atau pura-pura beriman padahal memusuhi Islam dan umatnya.

Al-Quran menyatakan, kaum Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah rela kepada umat Islam sehingga umat mengikuti millah (agama, sistem nilai, pola pikir, pola hidup) mereka (Q.S. al-Baqarah:120). Ditegaskan pula, sesunggunya orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap kaum mukmin adalah Yahudi dan musyrikin (Q.S. al-Maidah:82).

Karena itu, Allah SWT pun melarang umat Islam menjadikan ahlul bathil tersebut sebagai teman setia, apalagi pemimpin. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau mengambil musuh-musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad Saw) lantaran rasa kasih-sayang, padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu" (Q.S. al-Mumtahanah:1).

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Al-Haq, yakni syariat Islam, haruslah menjadi pegangan hidup kita. Kita pun harus memperjuangkan dan mengunggulkannya di atas kebatilan.

Tujuan utama syariat Islam, kata al-Maududi dalam Nizhamul Hayat fi al-Islam, adalah membangun kehidupan manusia atas dasar ma'rufat dan membersihkannya dari munkarat. Ma'rufat adalah kebaikan, yakni nama untuk segala kebajikan atau sifat-sifat baik yang sepanjang masa telah diterima sebagai baik oleh hati nurani manusia. Munkarat sebaliknya, yaitu segala dosa dan kejahatan yang sepanjang masa telah dikutuk oleh watak manusia sebagai jahat. Dalam Islam, ma'rufat adalah hal-hal yang wajib, sunat, dan mubah dilakukan oleh umat Islam. Sedangkan munkarat adalah hal-hal yang haram dan makruh dilakukan.

Ma'rufat wajib ditegakkan, sekaligus meruntuhkan munkarat. Tidak saja bagi diri pribadi setiap Muslim, tetapi juga menjadi kewajiban setiap Muslim untuk mendakwahkannya kepada orang lain. "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah" (Q.S. 110).

Semoga kita menjadi ahlul haq, sekaligus siap berjuang melawan dan mengalahkan ahlul bathil. Ahlul haq adalah "tentara Allah" (hizbullah) yang dijanjikan-Nya memperoleh kemenangan dan kebahagiaan (Q.S. al-Maidah:56, al-Mujadalah:22). Barakallahu li walakum. (ASM. Romli).***

Islam dan Komitmen Muslim

Islam dan Komitmen Muslim
Islam ialah penyerahan diri. Penyerahan diri ialah keyakinan. Keyakinan ialah pembenaran. Pembenaran ialah ikrar. Ikrar ialah pelaksanaan. Dan pelaksanaan ialah amal perbuatan (Ali bin Abi Thalib, dari Mutiara Nahjul Balaghah).

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Sejak kapan kita menjadi seorang Muslim? Mengapa memilih Islam sebagai anutan hidup? Pertanyaan tersebut akan mudah kita jawab jika kita seorang mualaf, atau seorang convert dari agama lain ke Islam. Sulit menjawabnya jika kita sudah "jadi Muslim" sejak lahir, dalam arti "Muslim turunan".

Secara lahiriah, seseorang "resmi" menjadi Muslim ketika ia mengucapkan dua kalimat syahadat, bersaksi bawah sesungguhnya tidak ada Tuhan --yang patut disembah-- selain Allah SWT dan bahwasanya Muhammad adalah utusan-Nya (asy-hadu an-laa ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan rasulullah).

Orang yang lahir dan hidup di sebuah keluarga Muslim, lazimnya sejak kecil ia sudah belajar mengucapkan kalimat syahadat, di tempat pengajian semacam madrasah diniyah, TK Islam, atau ketika belajar shalat. Dan itu dilakukan, tentu saja, "di luar kesadaran".

"Muslim turunan" mungkin akan sulit menentukan kapan ia mengucapkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya, dengan penuh kesadaran dan keyakinan, bahwa Allah adalah Tuhannya dan meyakini Muhammad sebagai nabi dan utusan-Nya yang mendakwahkan risalah Islam.

Kini, anggaplah tidak menjadi persoalan apakah kita seorang convert atau "Muslim turunan". Masalah utama menjadi agenda perenungan kita adalah sejauh manakah kemusliman kita telah kita tunjukkan dalam bentuk amal Islami. Sudahkah kita menjadi Muslim yang benar-benar "menyerahkan diri" pada kehendak Allah yang tercermin dalam alam perbuatan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Secara ideal, seseorang yang mengaku Muslim, dirinya telah benar-benar ter-shibghah (tercelup) kedalam "celupan Allah", yakni syariat Islam. Sehingga, segala perilaku kesehariannya berpedoman pada ajaran Islam, setiap gerak langkah dan perbuatannya "dikendalikan" oleh syariat Islam.

Tentu saja, untuk mencapai kondisi ideal seperti itu, seorang Muslim pertama-tama, setelah ia mengimani syariat Islam sebagai pedoman hidup, adalah meraih sebanyak-banyaknya pengetahuan tentang Islam untuk kemudian diamalkannya. Jadi, menuntut ilmu adalah hal mutlak diperlukan.

Ada banyak jalan untuk mendapatkan ilmu atau pengetahuan tentang Islam. Tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak belajar dan mendalami ajaran agamanya. Al-Quran sudah mengisyaratkan kewajiban menuntut ilmu itu dengan mengatakan bahwa manusia dilengkapi dengan alat pendengar, alat penglihatan, dan "rasa" (fuadah).

Pada era informasi kini, media massa cetak maupun elektronik banyak menyajikan informasi Islam. Mesjid-mesjid dan majelis-majelis taklim bertebaran di mana-mana dengan segala aktivitas Islamnya. Sehingga tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan: mana sempat....!

Islam tidak membenarkan seorang Muslim menjalankan Islam setengah-setangah (parsial). Misalnya, dalam menjalankan ibadah ritual ia menyembah Allah SWT atau sesuai dengan tuntunan Islam seperti shalat dan puasa, namun ketika berpraktik ekonomi dan politik ia mengikuti sistem ekonomi dan politik non-Islam.

Islam hanya menghendaki dianut oleh mereka yang mau dan mampu istiqamah, yakni konsisten, commit, atau berpegang teguh pada ajaran Islam dalam perilaku kesehariannya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Nabi Saw memberi nasihat pada seorang sahabatnya dengan "qul amantu billahi tsummas-taqim" (katakanlah, aku beriman pada Allah, kemudian beristiqamahlah!). Istiqamah merupakan istilah lain untuk merujuk pada pelaksanaan Islam secara menyeluruh (kaffah).

Dalam bukunya, Kuliah Al-Islam (1992), H. Endang Saifuddin Anshari, M.A. merujuk pada Q.S. al-'Ashr (103):1-3 untuk menerangkan bagaimana seorang Muslim menunjukkan komitmennya terhadap Islam. Berdasarkan ayat-ayat dalam surat tersebut, seorang Muslim haruslah (1) mengimani Islam, (2) mengilmui Islam, (3) mengamalkan Islam, (4) mendakwahkan Islam, dan (5) shabar dalam berislam.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Islam adalah agama yang bersifat universal. Islam berlaku bagi seluruh manusia di semua tempat dan pada segala zaman. Ajarannya meliputi semua aspek kehidupan umat manusia, termasuk di dalamnya urusan politik.

Berbeda dengan para nabi dan rasul sebelumnya yang diutus membawa ajaran Allah SWT untuk kaum/bangsa dan masa tertentu, misalnya Nabi Shaleh untuk Kaum Tsamud (Q.S. 27:45) dan Nabi Isa untuk Bani Israil (Q.S. 61:6), Muhammad Saw diutus bukan untuk kaum tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang masa (Q.S. 7:158, Q.S. 21:107, Q.S. 34:28).

Karena diperuntukkan bagi semua umat manusia di semua tempat dan pada segala zaman, maka ajaran Islam meliputi semua aspek kehidupan umat manusia dan mengandung ajaran-ajaran dasar yang berlaku untuk semua tempat dan semua zaman.

Islam bukanlah agama dalam pengertian Barat atau dalam pandangan kaum sekuler, yakni hanya mengajarkan tentang hubungan manusia dengan Tuhan (ritual, ibadah mahdhah). Islam adalah ajaran agama yang sempurna dan lengkap dengan pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengatur bagaimana manusia berhubungan atau beribadah secara vertikal dengan Tuhan, tetapi juga berisikan ajaran tentang hubungan manusia dengan sesamanya dan alam sekitarnya.

Sebagai agama universal, Islam sama sekali tidak mengabaikan masalah politik. Tidak dikenal dikotomi Islam-politik. Syekh Mohammad Iqbal dalam bukunya Misi Islam (1992) mengatakan, "Muhammad Saw mengemukakan politik dan agama sebagai satu kesatuan, dengan kedaulatan Tuhan sebagai prinsip fundamental negara".

Tidak heran jika seorang orientalis kondang, H.A.R Gibb, mengatakan, "Islam is indeed much more than a system of teology, it is a complete civilization" (Islam benar-benar lebih dari sekadar sebuah sistem ketuhanan, ia adalah sebuah peradaban yang lengkap). Hal senada dikemukakan seorang pengamat Barat, G.H. Jansen, dalam bukunya Islam Militan (1980). Menurutnya, Islam bukanlah sekadar agama, tetapi suatu cara hidup total mencakup agamawi dan duniawi. Islam itu suatu sistem keyakinan dan sistem peribadatan. Ia adalah suatu sistem hukum yang luas dan menyeluruh.

Al-Quran sendiri, sebagai sumber ajaran Islam yang utama, mengatakan tidak melupakan suatu hal pun dan ia menjelaskan segala-galanya. "Tidak kami lupakan suatu apa pun dalam kitab (al-Quran) itu" (Q.S. 6:38). "Dan Kami turunkan kitab (al-Quran) itu untuk menjelaskan segala-galanya" (Q.S. 16:89). (ASM. Romli).*

Mencintai Rasulullah Saw

  Mencintai Rasulullah Saw
Mencintai Rasulullah Saw

Kunci kebahagiaan itu, kata Imam al-Ghazali dalam bukunya Kitabul Arbai'in fi Ushuluddin, adalah mengikuti jejak Sunnah Rasulullah Saw dalam segala aspek kehidupannya.

"Bila Anda mengenakan celana," kata al-Ghazali, "kenakanlah sambil duduk, dan bila memakai sorban kenakanlah sambil berdiri, bila memakai sandal mulailah dari yang kanan dan bila melepasnya mulailah dari yang kiri. Demikian pula bila makan, hendaklah dengan tangan kanan, dan bila memotong kuku, mulailah dari kuku telunjuk kanan dan akhiri dengan memotong kuku ibu jarinya. Sedangkan kuku kaki, mulailah dari kelingking kaki kanan dan ditutup dengan kelingking kaki kiri. Begitulah dalam segala tindak tanduk Anda, usahakan berpedoman kepada Sunnah Rasul Saw."

Al-Ghazali kemudian mencontohkan perilaku Muhammad bin Aslam, yang tidak mau memakan buah semangka sampai akhir hayatnya. Pasalnya, ia tidak menemukan Sunnah Rasul Saw bagaimana cara memakan buah tersebut. Al-Ghazali tampaknya hendak menunjukkan, Sunnah Rasul itu tidak hanya menyangkut tatacara beribadah dan perilaku "besar"-nya saja, tetapi juga meliputi hal-hal "sepele" tadi. Artinya, hal sepele saja harus mengacu kepada Sunnah, apalagi hal besar seperti shalat, shaum, berumahtangga, memimpin pemerintahan atau menata kehidupan masyarakat, dan sebagainya.

Mengikuti Sunnah Rasul merupakan kewajiban setiap Muslim. Seorang Muslim yang benar-benar keimanannya, pastilah menjadikan Sunnah Rasul sebagai pedoman dalam hidupnya. "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah!" demikian firman Allah SWT dalam Q.S. al-Hasyr:7. Dalam ayat lain disebutkan, "Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu" (Q.S. Ali Imran:31).

Membincang Sunnah Rasul senantiasa aktual. Apalagi pada saat seperti sekarang, saat seluruh umat Islam di dunia memperingati hari kelahiran (maulid) Rasulullah Muhammad Saw, 12 Rabi'ul Awal, yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 6 Juli 1998 M. Maulid beliau hendaknya dijadikan momentum untuk mengkaji, kemudian mengikuti, pribadi dan gaya hidup beliau.

Bagaimanapun, setiap Muslim telah berikrar bahwa Muhammad itu utusan Allah, setelah mengakui bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Konsekuensi ikrar itu, antara lain, kewajiban untuk mengikuti apa saja yang diperintahkannya dan menjauhi semua larangannya. Selain itu, al-Quran menegaskan Muhammad Saw sebagai suriteladan yang baik (uswatun hasanah) bagi umat manusia.

Kiranya, layak jika setiap peringatan maulid Nabi dijadikan semacam perayaan "Gerakan Cinta Rasul". Arahnya, pastilah ke perbaikan iman dan peningkatan perilaku Islami, perilaku yang tidak saja mendatangkan kebahagiaan hidup dunia-akhirat, tetapi juga dapat menciptakan suasana harmonis dalam kehidupan sosial.

Kecintaan pada Rasulullah merupakan suatu keharusan yang tidak boleh diabaikan. Bahkan, dalam sebuah haditsnya Rasul Saw menyatakan, "Tidak beriman salah seorang dari kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya, atau seluruh manusia" (H.R. Bukhari).

Secara ideal, kecintaan terhadap Rasulullah yang identik dengan kecintaan terhadap agama Allah (Islam), merupakan bagian tak terpisahkan (inheren) dari kemusliman seseorang. Cinta merupakan kekuatan pendorong bagi seseorang untuk siap membela, melindungi, dan menuruti apa saja kemauan orang yang dicintai itu. Dan "kekuatan cinta" dapat menghilangkan rasa takut, menimbulkan kekuatan dahsyat, motivasi, dan kesiapan mengerahkan segala daya.

Ada dua macam cinta Rasul. Yang pertama, athfiyah. Cinta Rasul bentuk ini bersifat emosional, bergelora, dan penuh kehangatan yang melahirkan ghirah dan kesiapan untuk membela atau melindungi. Aksi demonstrasi untuk mengecam dan mendakwa seorang penghina Rasul, misalnya, merupakan ekspresi cinta bentuk ini. Demikian pula memuji dan menyanjung pribadi Rasul.

Yang kedua, minhajiyah. Lebih dari sekadar athfiyah, cinta macam ini ditunjukkan dalam bentuk perbuatan, yaitu menaati aturan-aturan Islam, menjalankan Sunah Rasul, sekaligus menjadikan beliau sebagai qudwah (idola) dan uswah (suriteladan).

Seyogianya, dalam diri setiap Muslim terdapat kombinasi kedua macam cinta Rasul tersebut. Semoga peringatan maulid kali ini, menjadi momentum bagi kita untuk menanamkan atau menumbuhkembangkan hal itu. Kaji dan kenali kembali pribadi Rasul dan ajarannya, untuk kemudian dipahami dan diamalkan secara lebih baik. (ASM. Romli).*

Ujian bagi Orang Beriman

Ujian bagi Orang Beriman

Ujian bagi Orang Beriman
Keputusan seorang manusia untuk memeluk Islam, menyatakan keimanannya pada Allah SWT sebagai Tuhannya dan meyakini Muhammad Saw sebagai utusan-Nya, merupakan keputusan tepat sekaligus mengandung sejumlah risiko. Karena, ketika seseorang mengatakan beriman, Allah SWT tidak akan membiarkannya begitu saja, tetapi akan memberinya ujian demi ujian --juga serangkaian hak dan kewajiban sebagai konsekuensi-- untuk mengetahui apakah ia benar-benar beriman atau sebatas pengakuan lisan saja.

Firman Allah SWT, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan 'kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (imannya) dan orang-orang yang dusta (munafik)." (QS 29:2-3)

Ibarat seorang pria menyatakan cintanya pada seorang gadis, pria tersebut tentu harus menunjukkan dengan perbuatan/sikap cintanya itu, sehingga sang gadis benar-benar meyakini cintanya. Seorang mukmin pun demikian. Ia harus menunjukkannya dengan sikap atau amal betapa ia benar-benar beriman pada Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga ia menjadi mukmin sejati dan berhak hidup bahagia dan masuk surga di akhirat kelak.

Iman merupakan kunci keislaman seseorang. Seseorang yang menyatakan beriman, dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, secara lahiri ia sudah menjadi anggota komunitas umat Islam. Masalah apakah ia benar-benar beriman atau hanya pengakuan lisan saja, itu urusan dia dengan Allah SWT.

Dalam suatu peperangan seorang sahabat membunuh orang kafir, padahal si kafir itu telah menyatakan iman pada Allah SWT dan kerasulan Muhammad. Nabi Saw pun marah. Namun sahabat tersebut punya alasan. Menurutnya, si kafir tadi masuk Islam secara terpaksa karena berada di bawah ancaman pedangnya atau karena takut dibunuhnya. Nabi menyatakan, mengapa tidak sekalian saja diambil hati si kafir itu dan dapatkah dilihat apakah ia benar-benar ikhlas atau terpaksa menyatakan beriman.

Dari peristiwa itu, ihwal ikhlas atau terpaksa, atau ihwal keadaan hati seseorang hanya Allah SWT yang tahu secara jelas. Manusia hanya bisa menduga-duga.

Al-Quran menggambarkan, orang yang menyatakan beriman ibarat melakukan transaksi jual-beli dengan Allah SWT. Orang tadi "membeli" surga dengan jiwa-raganya, atau "menjual" jiwa, raga, dan hartanya pada Allah SWT dengan bayaran keridaan-Nya.

Firman-Nya, "Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberi imbalan surga pada mereka." (QS at-Taubah:111)

Dan sebagian manusia ada yang menyerahkan diri mereka untuk mendapatkan keridaan Allah... (QS al-Baqarah:107)

Mukmin yang benar-benar beriman adalah mereka yang siap menyerahkan segala yang ada padanya pada Allah SWT. Ia siap melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia pun siap melaksanakan atau menghadapi segala ujian dari-Nya, untuk menunjukkan kesungguhan keimanannya.

Jadi, setiap mukmin harus siap melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya (ajaran Islam). Mukin sejati mempunyai sikap dasar sami'na wa atho'na (kami dengar dan kami patuh), sebagaimana firman Allah SWT,

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukumi di antara mereka, ialah ucapan 'kami dengar dan kami patuh'. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS 24:51)

"Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketentuan akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya (berpaling dari ketentuan itu), maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata." (QS 33:36)

Ujian Allah SWT bagi setiap mukmin antara lain berupa kebaikan dan keburukan, kesenangan dan kesusahan (QS 21:35, 89:15-16)). Setiap mukmin sejati akan menghadapi kebaikan/kesenangan dengan syukur dan menyikapi keburukan/kesusahan dengan sabar dan tawakal. Kemudian ujian berupa harta dan diri (QS 3:186), pangkat atau jabatan (QS 6:165), dan lainnya.

Seorang mukmin sejati tidak akan lupa diri dan bersikap takabur ketika mendapatkan kesenangan, kebaikan, harta, dan pangkat. Karena ia menyadari bahwa itu semua adalah ujian Allah SWT. Artinya, Dia mengujinya apakah kesenangan dan lainnya itu akan disikapi dengan syukur, dipergunakan sesuai garis yang ditentukan-Nya, atau malah kufur dan menyalahgunakannya.

Demikian pula ketika seorang mukmin menghadapi kesusahan, keburukan, atau musibah. Ia akan menyikapinya dengan sabar dan tawakal. Ia sadar bahwa semua itu merupakan ujian dari Allah SWT.

Setiap mukmin juga harus siap berjihad di jalan Allah SWT (QS 9:16), yaitu berjuang dengan mengerahkan segala daya, upaya, harta, dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, ilmu, dan segala apa yang dimiliki demi tegaknya syiar Islam. Jihad juga berarti menahan atau mengendalikan hawa nafsu (nafs al-amarah) yang, dengan dukungan godaan setan, selalu mengajak pada perbuatan maksiat dan pelanggaran terhadap aturan Allah SWT.

Setiap mukmin menyadari bahwa ajaran Islam bukan hanya untuk diamalkan, didakwahkan, tetapi juga harus dilindungi atau dijaga kesucian dan keluhurannya. Setiap mukmin tidak akan rela jika ada pihak yang melecehkan Islam, baik melalui penghujatan terhadap al-Quran maupun terhadap Nabi Muhammad Saw.

Namun demikian, setiap mukmin pun (harus) menyadari, termasuk pelecehan Islam juga jika wahyu Allah SWT ini diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, alias tidak diamalkan.

Beratkah menjadi seorang mukmin yang benar-benar keimanannya? Tidak, jika keimanan itu ikhlas atau sepenuh hati. Dan, ya jika keimanannya setengah hati atau terpaksa. Dan al-Quran sendiri telah mensinyalir adanya orang yang beriman setengah hati dengan firman-Nya,

"Dan di antara manusia ada yang mengabdi pada Allah dengan berada di tepi (setengah hati, ragu-ragu). Jika kebaikan menimpanya, ia merasa tenang dan jika ditimpakan padanya kerugian berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat dan itulah kerugian yang nyata." (QS al-Hajj:11). (Asep Syamsul M. Romli).*